Sociable

Monday, August 07, 2006

Seputih Melati

Seputih Melati

Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya.

Ia tak memilikiwarna dibalik warna putihnya.

Ia juga tak pernah menyimpan warna lainuntuk berbagai keadaannya, apapun kondisinya, panas, hujan, terik ataupunbadai yang datang ia tetap putih.

Kemanapun dan dimanapun ditemukan,melati selalu putih.

Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri.Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya.

Pada angin iamenyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianyatetap putih berseri.

Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan anginmenerpa.

Kekanan ia ikut, ke kiri iapun ikut.

Namun ia tetap teguhpada pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akansegera kembali pada tangkainya.

Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantararibuan air yang menghujani tubuhnya, agar siapapun tak pernah melihatnyabersedih.

Karena, saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula airdari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes.

Sesungguhnya, iasenantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yangmau memahami setiap tetes air matanya.

Bersama hujan ia bisa menangissekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata danmerasakan setiap kegetiran.

Karena juga, hanya hujan yang selama iniberempati terhadap semua rasa dan asanya.

Tetapi, pada hujan juga iamendapati keteduhan, dengan airnya yang sejuk..

Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memelukerat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya,menserikan alam.

Agar kelak, apapun cobaan yang datang, ia dengan sabardan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cintadan kasih Sang Pencipta.

Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan? Adakah kasih sayang tanpa cobaan?

Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya.

Karena, dengan hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarnaputih.

Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa iaharus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya taklagi putih?

Pada bunga lain ia bersahabat.

Bersama bahu membahu menserikan alam,tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karenamasing-masing memahami tugas dan peranannya.

Tak pernah melati irimenjadi mawar, dahlia, anggrek atau lili, begitu juga sebaliknya. Takterpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahus emuafungsinya sebagai putih.

Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkansinarnya yang menghangatkan.

Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuhyang telah beku oleh pekatnya malam.

Sinarnya yang menceriakan, biashangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dansegar di setiap pagi.

Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupanyang penuh gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuksatu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.

Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkansetiap jiwa yang bersamanya.

Indah menghiasharumi semua taman yangdisinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atasnama cinta dan keridhoan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnyatunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bungayang putih. Yang tetap berseri disemua suasana alam..

Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agartak segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusakkeindahannya, yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka diputihnya.Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbingdan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiapperannya.

Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya,tidak membiarkan apapun merubah warnanya hingga masanyamempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya.Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati,seputih melati.

Dan orang memandangnya juga seperti melati.Dan kepada melatiku, tetaplah menjadi melati di tamanku. Karena, akuakan menjadi angin, menjadi hujan, menjadi tangkai, menjadi matahari,menjadi daun dan alam semesta.

Tetapi takkan pernah menjadi debu atau unggasyang hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitusaja.

"Mekar...Mekarlah melatiku, bersama ibu mengarungi duniamu, Kurawat engkau, kudidik engkau, untuk keteguhan akhlak muliamuJangan takut melatiku, mengarungi duniamu...ibu akan selalu menjagamu...

Tersenyumlah melatiku, dan bersyukurlah dengan seluruh badan dan jiwamu,akan karunia Illahi ini, KAU SEPUTIH MELATI SAYANG IBU....Sumber: NN(tidak diketahui siapa pengarangnya)